Luka Mutiara Hitam yang Terbakar, Amarah dan Kekecewaan Suporter Persipura di Stadion Lukas Enembe
Kolase suporter Persipura rusuh usai laga vs Adhyaksa FC. (Tajuknasional)
BERITAINBOLA.COM – Luka Mutiara Hitam yang Terbakar, Amarah dan Kekecewaan Suporter Persipura di Stadion Lukas Enembe Di tengah gemuruh harapan puluhan ribu hati Papua pada 8 Mei 2026, Stadion Lukas Enembe menjadi saksi bisu akan luka yang menganga lebar di dada suporter Persipura Jayapura.
Kekalahan tipis 0-1 dari Adhyaksa FC Banten dalam playoff Championship Liga 2 mengubur mimpi indah kembali ke kasta tertinggi BRI Super League, liga yang pernah menjadi habitat alami Mutiara Hitam selama bertahun-tahun.
Sudah empat musim lamanya, sejak terdegradasi pada akhir 2021/2022, klub kebanggaan ini terasing dari panggung megah sepak bola Indonesia, padahal dulu ia pernah menyandang mahkota juara sebanyak empat kali pada 2005, 2008-2009, 2010-2011, dan 2013, serta mengharumkan nama Papua hingga babak semifinal Piala AFC.
Amarah yang lama terpendam meledak bagai lahar gunung api, membakar mobil-mobil termasuk ambulans polisi, melempar batu dan botol ke arah wasit serta pemain tamu, hingga satu aparat terluka, sebuah ledakan kekecewaan yang lahir dari harapan yang terlalu suci pada tim yang menjadi simbol identitas dan kebanggaan daerah.
“Diduga karena kecewa tim Persipura kalah,” ujar Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito, seperti dikutip dari Tribunnews.
Sementara Kompas.com melukiskan massa yang “bertindak anarkis sesaat wasit meniup peluit,” dan Tribun Wow mencatat bendera Bintang Kejora berkibar di tengah asap petasan dan chaos. Di media sosial, ratapan suporter mengalun pilu.
“Nonton matchnya tadi, ikut kecewa,” ujar warganet.
“Rada kecewa juga Persipura gagal,” ujar yang lainnya.
“Ngeri ya after match… smpe rusuh bakar mobil segala.” tulis warganet.
Bukan sekadar soal skor atau promosi yang gagal, melainkan pupusnya mimpi bertahun-tahun, frustrasi panjang atas penantian yang tak kunjung usai, serta rasa kehilangan akan kejayaan masa lalu yang kini terasa begitu jauh.
Kerusuhan itu memang menyakitkan, merusak fasilitas publik dan citra klub, namun ia juga cerminan emosi manusiawi yang tak terkendali ketika harapan suci diinjak-injak di lapangan hijau yang penuh kenangan.
Semoga dari abu kekecewaan ini, Persipura bangkit kembali dengan semangat yang lebih kuat, dan suporter belajar menyalurkan api amarah menjadi energi positif yang menyatukan, bukan memecah belah. Karena sepak bola sejatinya adalah nyanyian hati, bukan ratapan duka yang tak berujung.
Lihat berita lainnya di YouTube Beritain Bola dan X Beritain Bola!
